Apakah kata-kata di atas terasa
familiar bagi kita? Ya itu adalah reaksi kebanyakan kita ketika kita mengetahui
seseorang yang kita kenal “jatuh”. Jatuh yang dimaksud bisa saja jatuh sakit,
jatuh tertipu orang lain, jatuh karena kesalahan, jatuh dalam dosa, dan jatuh
lainnya. Kita terkadang terlalu cepat bereaksi terhadap kejatuhan orang lain,
dan merasa kita lebih baik, padahal kita sendiri tidak luput dari kejatuhan.
Meskipun terkadang reaksi kita itu kita maksudkan untuk kebaikan orang yang
terjatuh tersebut dengan mengatasnamakan nasihat/saran/masukan, tapi pada
dasarnya itu bukanlah hal yang dibutuhkan oleh orang-orang yang terjatuh,
karena kebanyakan mereka (atau mungkin kita) yang terjatuh sudah tahu kesalahan
kita. Orang yang terjatuh tidak membutuhkan tuduhan-tuduhan, saran-saran,
kritik-kritik, terguran-teguran pada saat ia sudah terpuruk. Orang yang sudah
terpuruk sudah cukup buruk harinya dengan penyesalannya akan kesalahannya,
janganlah kita menambahkannya lagi dengan hal-hal sampah yang kita anggap
sebagai kebaikan baginya, padahal hanya membuatnya makin terpuruk.Sabtu, 17 Juni 2017
POLISI atau SOLUSI
Apakah kata-kata di atas terasa
familiar bagi kita? Ya itu adalah reaksi kebanyakan kita ketika kita mengetahui
seseorang yang kita kenal “jatuh”. Jatuh yang dimaksud bisa saja jatuh sakit,
jatuh tertipu orang lain, jatuh karena kesalahan, jatuh dalam dosa, dan jatuh
lainnya. Kita terkadang terlalu cepat bereaksi terhadap kejatuhan orang lain,
dan merasa kita lebih baik, padahal kita sendiri tidak luput dari kejatuhan.
Meskipun terkadang reaksi kita itu kita maksudkan untuk kebaikan orang yang
terjatuh tersebut dengan mengatasnamakan nasihat/saran/masukan, tapi pada
dasarnya itu bukanlah hal yang dibutuhkan oleh orang-orang yang terjatuh,
karena kebanyakan mereka (atau mungkin kita) yang terjatuh sudah tahu kesalahan
kita. Orang yang terjatuh tidak membutuhkan tuduhan-tuduhan, saran-saran,
kritik-kritik, terguran-teguran pada saat ia sudah terpuruk. Orang yang sudah
terpuruk sudah cukup buruk harinya dengan penyesalannya akan kesalahannya,
janganlah kita menambahkannya lagi dengan hal-hal sampah yang kita anggap
sebagai kebaikan baginya, padahal hanya membuatnya makin terpuruk.Kamis, 30 Juni 2016
Perkataan
Jumat, 08 Januari 2016
"Buang Air"
Kamis, 18 September 2014
Terkejut
Hampir setiap hari saya memakai motor sebagai alat transportasi saya untuk kemana saja, yah walaupun jarak terjauh yang saya tempuh dengan motor adalah Cipanas Puncak. saya sangat menyukai berkendara motor kemana saja karena saat mengendarai motor entah bagaimana selalu mendapat inspirasi dan ide-ide baru, bahkan ada saja pelajaran yang di dapat saat mengendarai motor. Setelah sekian tahun mengendarai motor, ada hal saya pelajari mengenai menghadapi berbagai kondisi jalan, entah berlubang, rata, berbatu, lubang besar, banjir, macet, berlumpur, tanah basah, dll. Seperti salah satu tips berkendara saat macet yang pernah saya dengar di radio yaitu kita harus menyiapkan hati untuk kemungkinan adanya macet karena dengan menyiapkan hati untuk menghadapi macet tersebut kita akan lebih siap secara mental bahkan fisik dan tidak menguras tenaga kita untuk mengeluh maupun kesal. Jadi pada saat berkendara kita sudah harus selalu siap untuk kemungkinan macet tersebut. Tapi jika kita tidak siapkan hati kita untuk hal tersebut dengan berpikir dan berasumsi bahwa jalanan akan lancar jaya selalu, dan pada saat kita sedang santai-santainya melaju ternyata kemacetan lalu lintas ada depan kita maka kita akan tidak siap dan merasa kesal sehingga energi terkuras. Saya pernah merasakannya jadi saya mengerti apa yang dimaksudkan. Tentu saja trik menyiapkan hati selalu ini tidak hanya pada saat macet tapi pada saat akan menemukan jalanan yang rusak, banjir, berbatu, becek, dll tersebut sehingga kita lebih siap dan sanggup saat harus menghadapi kemungkinan-kemungkinan terseburuk tersebut tanpa mengeluh dan menyalahkan orang lain atau keadaan bahkan pemerintah.Rabu, 27 Agustus 2014
Kemasukan Solar
Senin, 19 Agustus 2013
tua belum tentu bijak
Dulu saya pikir bahwa orang yang sudah tua itu pasti bijaksana dengan bertambahnya uban di rambutnya, saya pikir mereka itu sabar-sabar dan pengertian. Ternyata saya salah total, usia tidak bisa menjadi tolak ukur kebijaksanaan dan kedewasaan seseorang karena saya juga sering lihat dan bertemu orang yang sudah tidak muda lagi masih suka respon dengan marah di jalan.
Mereka tidak berubah dari masa mudanya hingga masa tuanya tetap memelihara sifat-sifatnya yang negatif, inilah yang disebut orang bebal dalam Alkitab. Coba saja cari kata bebal di Alkitab khususnya kitab Amsal, banyak sekali ditemukan ayat tentang orang bebal. Salah satunya adalah "Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya." (Amsal 18 : 2).
Tentunya kita tidak ingin menjadi orang bebal yang susah diberitahu dan selalu membeberkan isi hatinya terus bukan?? Sebagai orang muda kita pun sudah harus belajar untuk tidak menjadi bebal, yaitu menjadi orang bijak dan berpengertian sehingga saat tuanya nanti kita benar-benar akan menjadikan orang lain merasa aman dan nyaman dekat kita karena kebijakan kita, dan tidak akan malu dengan umur. Jadiah bijak dengan belajar mengendalikan emosi, suka terhadap pengertian / nasihat, dan dekat dengan Tuhan.
GBUs..
Amsal 20:29
Hiasan orang muda ialah kekuatannya, dan keindahan orang tua ialah uban.
Minggu, 13 Januari 2013
KECANDUIN
Selama in apa saja yang kita anggap kecanduan?? Biasanya yang kita anggap kecanduan itu seperti: rokok, sex bebas, narkoba, pornografi, game on line, minuman beralkohol, masturbasi. Betul tidak?? Hmm, terlalu sempit kalau pikiran kita menganggap hanya hal-hal tersebut yang disebut dengan kecanduan. Saya kenal dengan beberapa orang yang kalau lagi stress atau sakit kepala pasti segera mencari obat, yang dimaksud obat di sini bukannya panadol atau paramex, tapi minuman harum yang bernama kopi. Ehhmm, emang nikmat minum kopi yang harum dan enak. Tapi kalau sedikit-sedikit kita minum kopi, apalagi kalau ada masalah, stress, sakit kepala, pusing, terus kita minum kopi, maka itu jadi gaya hidup dan kebiasaan, akhirnya tanpa disadari menjadi kecanduan, bahkan ga disadari bahwa itu kecanduan. "Ahhh kopi doang, ga apa-apa kali!" Yah itu adalah reaksi sebagian orang, tapi kalau sudah masuk ke tingkat kecanduan itu sih namanya sudah apa-apa. "Lah berarti kita juga kecanduan udara, kecanduan air donk, soalnya kita gunakan tiap hari!" Wah kalau sampe ada yang ngomong gitu sih berarti..... Ah sudahlah ga sah saya sebutkan. Yah air, dan udara itu namanya kebutuhan pokok kita supaya hidup, apakah hal-hal yang membuat kita kecanduan itu akan membuat kita mati kalau kita tidak memakai atau mengkonsumsinya?! Engga kan! Maksud kecanduan itu kita tidak benar-benar memerlukannya setiap hari, bahkan ada beberapa yang benar-benar tidak diperlukan.Masih ada kecanduan-kecanduan yang terjadi tanpa kita sadari, contohnya: kecanduan nonton televisi, kecanduan mencium bau-bauan (entah bau lem, bau minyak angin, bau balsem, bau parfum, dll), kecanduan makanan tertentu yang ga dianggap bahaya (seperti makanan-makanan cepat saji), kecanduan dengan binatang-binatang peliharaan, kecanduan internet, kecanduan handphone, kecanduan minum minuman ringan, obat penenang, obat tidur, dan lain-lainnya yang masih belum kita sadari. Mungkin aneh yah ada kecanduan seperti itu, tapi itu benar adanya. Kenapa kecanduan-kecanduan ini berbahaya? Hal-hal tersebut dapat menjauh kita dari Tuhan karena telah memperhamba kita. Hampir semua hal yang berasal dari suatu desakan maupun bersifat memperbudak adalah suatu bentuk kecanduan.Dan kecanduan itu bisa beraneka ragam. Dalam 1 Korintus 6: 12 Rasul Paulus berkata, "segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun."
"Ahh daripada saya melakukan hubungan sex bebas, kan mending saya notnon film porno aja dan masturbasi sendiri, kan parahan sex bebas." Wah kacau juga kalau begitu, hati-hati iblis bisa mengecoh kita dengan pemikiran seperti itu. "Daripada gua minum alkohol kan mending gua minum kopi aja buat melepas beban berat gua, en stress gua, ga alah donk!" Wah wah ini mah sama aja kayak pernyataan sebelumnya, cari-cari alasan untuk pembenaran diri. Segala bentuk kecanduan itu tidak baik bagi jasmani maupun rohani kita. Coba kita cari tau apa efek minum kopi setiap hari, pasti tidak baik. Memang betul kopi itu diminum sekali-kali baik buat kesehatan, tapi kan sekali-kali. "Terus kalau gua suka ngantuk gimana donk?? Kan terganggu kerjaan di kantor." Yah sekali-kali minum kopi sih ga masalah tapi kan bukan alasan buat hilangin ngantuk, kalau gitu sih solusinya yag tidurlah yang cukup.
Berhati-hatilah dengan jebakan iblis yang membuat kita mencari-cari alasan untuk membenarkan diri. Saya sendiri pernah seperti itu untuk membenarkan diri dari kecanduan. Dulu saya pernah suka sekali mencium bau-bauan balsem atau minyak angin. Setelah mengerti kebenaran, saya sadar bahwa hal itu tidak baik karena telah memperhamba. Kalau sehari tidak pegang balsem atau minyak angin, gimana gitu rasanya. Enggak beres ini!
Dari bhttp://kamusbahasaindonesia.org ditemukan bahwa kecanduan adalah kejangkitan suatu kegemaran (hingga lupa hal-hal yg lain). Nah loh! Dari seorang hamba Tuhan yang bernama Derek Prince yang sudah banyak memberkati bangsa-bangsa dengan bukunya, ia mendefinisikan kecanduan menurut Alkitab adalah seseorang dikatakan kecanduan apabila ia berada di bawah suatu kuasa yang tidak berguna. Saya percaya bahwa kecanduan berdasarkan pengertian itu hampir selalu dari setan, begitu katanya.
Ingatlah satu-satunya "kecanduan" yang terbaik adalah ketergantungan dengan Tuhan (Yeremia 17: 7-8; Mazmur 1), karena hanya bergantung dengan Tuhan saja "kecanduan" itu menjadi berkat bagi kita sendiri dan orang lain. Kita sama-sama belajar untuk peka apakah kita dalam suatu kecanduan atau tidak, dan terus bergantung hanya pada-Nya..
God always with us.
Jumat, 05 Oktober 2012
Refresh
Beberapa minggu lalu
dalam perjalan kembali dari BSD (serpong) ke Jakarta, badan saya terasa lelah
dan mengantuk, padahal sedang mengendarai motor di jalan yang termasuk ramai
lancar dengan kecepatan sedang agak kencang. Akhirnya saya putuskan berhenti
sejenak sambil melihat bbm masuk, tapi tidak sampai semenit saya paksakan jalan
lagi ternyata ngantuk masih mendera. Rasanya rugi untuk berhenti sejenak lagi
karna perjalanannya cukup lama dan akan menghadapi macet di daan mogot lagi.
Akhirnya lagi saya putuskan lagi untuk berhenti, dan kali ini lebih lama, pikir
saya dari pada terjadi hal yang tidak diinginkan di jalan, lebih baik berhenti
lima menitan dan segar kembali, apalagi waktu itu flu sudah mulai terasa
gejalanya. Saya mencoba merefresh tubuh dan pikiran supaya bisa lebih fokus
dalam mengendarai motor, dan itu berhasil sampai saya di Jakarta, saya tidak
tau apa jadinya kalau saya tidak memaksakan diri untuk istirahat sebentar di
pinggir jalan, dan saya bersyukur dengan keputusan saya itu. Thanks God!Rabu, 04 April 2012
tahu + tidak dikerjakan = tidak tahu

Seminggu yang lalu saya dan partner kerja saya melakukan janji temu dengan adik kelas kami sewaktu masih SMK dulu untuk menawarkan peluang usaha. Setelah ngobrol-ngobrol kami tahu bahwa salah satu dari mereka yang adalah saudara kembar perempuan dan laki-laki ini bekerja di perusahaan motivator yang pekerjaannya melakukan seminar-seminar presentasi motivasi bagi perusahaan-perusahaan. Harapan kami sewaktu mengetahui dia bekerja di bidang motivasi seharusnya punya spirit yang positif karena banyak materi-materi motivasi yang dia ketahui yang mungkin mempengaruhi sikap dan respon-responnya terhadap apa yang terjadi pada hidupnya. Akan tetapi setelah berbincang-bincang kami merasakan 'aura' yang kurang positif darinya dan pernyataan-pernyataan yang tampak bukan seperti seorang pemenang karena perkataan yang keluar adalah perkataan-perkataan yang melemahkan diri sendiri. Padahal ketika teman saya memberitahukan mengenai kuasa perkataan kita terhadap diri kita, ia langsung berkata "itu ada di materi yang kami ajarkan". Saya pun langsung menyambar, "kalau tahu kenapa masih begitu ga jalani apa yang kalian ajarkan?!"
Begitulah gambaran kebanyakan orang, jangan-jangan karena terlalu banyak tahu dia jadi biasa dengan pernyataan-pernyataan membangun/motivasi/semangat/positif yang dia dengar, dia baca, dia dapat dari orang lain. Jadi istilah "TO KNOW AND NOT TO DO IS NOT TO KNOW" adalah benar. Tahu tapi tidak melakukan adalah sama dengan tidak tahu. Jangan sampai kita terbiasa dengan hal-hal seperti itu sehingga itu hanya angin lalu yang tidak mengubah sikap dan karakter kita, karena sejujurnya itu kita seperti menipu diri sendiri. Gambar di atas adalah gambar yang saya ambil sewaktu sedang ada pemberian Motivasi dari perusahaan saya bekerja di Manulife Financial. Mungkin tujuan manajemen memasang tulisan itu agar para tenaga penjual yang sering mendapatkan motivasi-motivasi tersebut tidaklah sia-sia. Buat apa kita tahu segala sesuatu yang baik tapi tidak tercerminkan dalam hidup kita?! Lebih baik hanya tahu sedikit tapi benar-benar diaplikasikan, tapi alangkah indahnya jikalau kita bisa banyak tahu tapi juga banyak yang diaplikasi, pasti hasilnya maximals. ;)
Yakobus 1: 22-23
"Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu dirimu sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya."
GBU all...!!
Rabu, 07 Maret 2012
words + action

Tadi siang saya ke mini market di lingkungan sekolah, saya melihat seorang ibu menasihati anaknya untuk tidak makan snack. "jangan makan chiki loh nanti dimarahin papa!", si ibu menasihati. Lucunya sewaktu si ibu nasihati anaknya dia juga sambil makan snack yang sama, saya melihatnya dengan geli karena anaknya acuh tak acuh. Mungkin anaknya berkata dalam hati, "mama ajah makan chiki masa suruh aku ga boleh makan!?" Akhirnya si mama memberitahu anaknya untuk tidak bilang ke papanya kalau di habis makan snack itu.
Itu adalah pemandangan yang menggelikan tapi itulah yang sering terjadi di sekitar kita bahkan secara tak sadar pun kita melakukan hal serperti itu. Menasihati atau memberitahukan orang lain, tapi kita sendiri tidak melakukan apa yang kita lakukan. Mungkin ada yang pemimpin yang suruh memarahi anak buahnya untuk tidak telat, tapi dia sendiri suka telat. Mungkin ada guru yang memarahi anak muridnya untuk melarang merokok, tapi gurunya sendiri suka merokok. Seorang penjual multivitamin menawarkan produknya, tapi dia sendiri tidak pernah mengkonsumsi produknya tersebut. Seorang teman menasehati temannya yang lain agar tidak berkata-kata yang kasar/kotor, tapi terkadang ia sendiri masih suka keceplosan berkata-kata yang sama. Jadi pada intinya perkataan kita terhadap sesama kita itu tidak ada kekuatan/kuasanya pada saat kita mengatakan hal tersebut kepada orang lain agar dia melakukannya bila kita sendiri tidak melakukan apa yang kita perkatakan.
Memang benar ACTION SPEAK LOUDER THAN WORDS, tapi alangkah indahnya bila kita selain memperkatakan (words) tapi juga melakukannya (action), maka akan lebih powerfull daripada hanya action saja.
"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 7: 12)
Minggu, 26 Februari 2012
jatuh-bangun-jalan-jatuh-bangun
Amsal 24: 16 -Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.-Saya menangkap sisi lain dari ayat tersebut, jatuh dalam ayat amsal tersebut bukan saya artikan sebgai kegagalan dalam hal biasa dibayangkan orang pada umumnya, seperti: kegagalan dalam usaha, kegagalan dalam studi, kegagalan dalam membina hubungan, kegagalan dalam pekerjaan, kegagalan dalam pelayanan, ataupun kegagalan dalam memimpin. Tapi ada hal kegagalan dimana anak Tuhan harus terus berjuang, yaitu menjaga "kekudusan".
Saya ini selalu mengendarai motor kemana-kemana. Beberapa hari yang lalu salah jalan karna kurangnya pengetahuan tentang peraturan lalu-lintas di daerah Tomang (memang tidak ada peraturan yang jelas di rambu-rambunya, dan biasanya saya lewat jalur tersebut dan tidak ada masalah), dan akhirnya saya diberhentikan polisi, yah sudah tahu dong ceritanya saya pasti minta ditilang saja daripada 'damai' yang malah buat saya tambah berdosa. habis ditilang saya melanjutkan perjalanan saya, saya sempat protes secara tidak langsung sama Tuhan bahwa saya ini tidak pernah melanggar aturan-aturan lalu-lintas seperti pada umumnya pengendara motor yang bisa ugal-ugalan, terobos lampu merah, ga pake helm, lampu ga pernah dinyalakan (siang/malam), naik trotoar, ga punya SIM, plat nomor motor ga jelas, dll. Tapi kok Tuhan izinkan saya ditilang dengan ketidaksengajaan saya untuk melanggar, mana mungkin saya ada niat melanggar karena saya melintasi polisi itu saat melanggar. Saya agak kesal, tapi Tuhan ingatkan untuk tetap setia. Padahal saya sempat protes mendingan saya suka melanggar aturan lalin saja karna sama saja toh tetap kena tilang-tilang juga, karena saya merasa tidak adil sepertinya mereka yang suka melanggar itu baik-baik saja dengan polisi, mungkin. Saya tahu saya jatuh karena kebodohan saya, tapi saya tetap putuskan untuk tetap setia dalam mengikuti aturan lalin, biar lampu lalin masih merah tapi jalan sepi dan orang di belakang sudah klakson-klakson saya tetap tunggu lampu hijau baru jalan, saya tetap tahan diri ketika yang lain naik trotoar saya tidak, saya tetap selalu menyalakan lampu, saya tetap pakai helm kemanapun walau jaraknya dekat, saya tetap mengendarai motor dengan sopan, cuma berani agak kencang saat jalan benar-benar lengang karena sudah malam harus segera pulang.
Mungkin kita pernah merasa malu dan ga layak lagi datang ke Tuhan lagi karena kita merasa jatuh terus dalam dosa-dosa yang sepertinya sulit kita taklukkan, seperti: rokok, alkohol, pornografi, perzinahan (dosa seksual), kata sia-sia (perkataan kotor), pikiran kotor, melanggar aturan-aturan dimanapun, suka marah-marah, suka gossip, narkoba, berkelahi, dll. Akan tetapi ayat Amsal 24:16 tadi itu mengatakan bahwa orang benar akan tetap bangkit walaupun ia sering terjatuh (tujuh kali jatuh dimaksudkan sudah banyak kali jatuh), dan kita adalah orang-orang yang dibenarkan Allah dalam Kristus Yesus, Dia mau kita tetap bangkit dan berjalan tegap ketika kita jatuh dalam dosa kita. Jangan kita malah tidak mau lagi datang ke Tuhan karena perasaan bersalah itu, jika seperti itu justru iblis yang akan senang. Tuhan mau kita tetap datang kepadanya dengan mengakui salah dan mencoba bangkit dan berjalan dengan tegap untuk melawan dosa tersebut. Dia tidak mau kita berlama-lama "menikmati" kejatuhan dalam dosa kita dengan perasaan bersalah seperti kerbau dalam kubangan. Jangan kita berpikir, "buat apa gua ke gereja lagi cari Tuhan gua ini kan udah ga layak, gua sering jatuh terus ke dalam dosa, buat apa gua tetap pertahankan buat bangkit lagi, toh sama aja hasilnua."
Saya sendiri sering merasa saya tidak layak datang kepada Tuhan karena dosa-dosa yang masih jatuh bangun saya hadapi, sampai dulu pernah saya tidak datang kepada Tuhan berhari-hari lamanya, dan hidup jadi terasa hampa dan aneh tanpa Tuhan. Jadi saat ini pola pikir saya sudah berubah saya akan langsung bangkit kepada Tuhan untuk meminta ampun kepada Tuhan ketika saya jatuh dalam dosa yang dimana saya harus terus berjuang melawannya, dan memohon Tuhan jangan meninggalkan saya, serta terus bertekad untuk berjalan terus bersama Tuhan.
So, kalau ada dari kita yang masih suka jatuh dengan dosa-dosanya yang dimana kita harus terus berjuang melawannya, tetap bangkit terus dan langsung datang pada Tuhan cari wajah-Nya untuk pengampunannya dan mohon kekuatannya untuk bisa berjalan terus dengan komitmen yang baru, jangan pergi dari Tuhan karena akan tambah buruk konsekuensinya. Tetap berjuang sobat! Tuhan tidak mau kita terjebak dengan keterpurukan perasaan bersalah kita dan terus berjuang sampai bisa berjalan dalam kekudusan dan tidak pernah jatuh lagi karena kuat kuasa dari Tuhan. Saya pun akan terus berjuang melawan diri sendiri yang rentan terhadap dosa, tapi jangan pakai kekuatan sendiri yah...
GBU!
Rabu, 18 Januari 2012
Siapa yang menang?

Seorang Indian Amerika sedang memberikan sebuah kesaksian tentang pencobaan. Ia berkata, "saudara-saudari, saya seolah-olah sedang memiliki dua ekor anjing yang terus berkelahi dalam pikiran saya. Yang seekor sangat baik, cantik, dan berbulu putih. Ia selalu melindungi kepentingan-kepentingan saya. Seekor lainnya sangat jahat, berbulu hitam dan selalu mencoba merusak banyak hal yang ingin saya bangun."
Senin, 19 Desember 2011
don't waste your life!

Beberapa hari yang lalu saya main ke rumah teman saya, kebetulan waktu itu dia lagi menyalakan televisinya dan sedang tayang film iron man. Sewaktu kami nonton ceritanya sudah mulai, jd bukan dari awal. Bercerita tentang Tony Stark yang adalah anak tunggal dan pewaris perusahaan senjata Stark yang diwariskan ayahnya, hidupnya penuh dengan kemewahan, kemudahan, jadi 'playboy', dan agak sedikit arogan bahkan terkesan berengsek. Singkat cerita dia ke suatu daerah untuk mengujicoba senjata terbarunya, sekalian melakukan transaksi. Di tengah jalan setelah ujicoba rombongannya diserang dan akhirnya Tony disandera. Dia sekarat karena terkena pecahan benda yang menghujam badannya. Di gua tempat dia disandera hidupnya diselmatkan oleh seorang ahli kimia dan fisika berkebangsaan timur-tengah yang fasih bahasa inggris dengan dibuatkan semacam reaktor pada tubuh Tony supaya dia bisa tetap hidup. Sejak saat sulit itu menjadi titik balik dari seorang Tony Stark yang arogan. Merasa hidupnya beruntung, dia pun memutuskan bila berhasil keluar dari gua penjara itu ia akan memakai skillnya untuk membela yang benar dan tidak hidup dengan sembarangan lagi. Akhirnya ia berhasil membuat prototype Iron Man pertama di gua itu meloloskan diri dibantu sang profesor. Saat mengaktifkan baju perangnya tersebut untuk melarikan diri, sang profesor membuka jalan agar Tony selamat dengan mengorbankan dirinya. Saat profesor itu sekarat, Tony mengucapkan terimakasih karna sudah menyelamatkan nyawanya, dan temannya itu mengucapkan, "It's okey, I choose this, don't waste your life!" Lalu Tony Stark berhasil melarikan diri dengan melawan sisa-sisa musuhnya tersebut, singkat cerita sikap hidupnya berubah dan ia jadi pahlawan setelah kembali ke tempat asalnya.
sewaktu saya menonton adegan "don't waste your life" itu seperti sedang menegur saya. Meskipun saya hanya menonton ulang film tersebut sampai di situ, tapi hal itu menyentuh saya karna saya tahu cerita akhirnya pemeran utama berubah karna ada orang yang rela mati agar dia bisa bebas dan jadi lebih baik. Ini mengingatkan saya pada Yesus yang sudah mati bagi kita semua, dan dia juga berkata "jangan sia-siakan hidupmu, Aku sudah mati untukmu, kau sudah bebas dari kutuk dosa, jangan sia-siakan hidupmu." Oh man! Ini benar-benar menegurku walau hanya adegan film yang sudah pernah ditonton karna selama ini saya merasa sudah menyianyiakan hidup (waktu) yang Tuhan berikan. Hal kecil sekalipun Tuhan bisa pakai buat menegur kita. Apakah kita masih mau seenaknya dengan hidup ini yang adalah anugrah-Nya melalui karya-Nya di kayu salib?? Yah kita tidak boleh membiarkan hidup kita ini sia-sia karna Dia sudah menyelamatkan jiwa kita dari kuasa dosa (maut). Renungkanlah, karna saya pun juga sudah merenungkannya dan terus mencoba agar tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini. Bukankah kita seharusnya seperti si iron man yang hanya tokoh fiksi itu yang mengucapkan "thankyou for saving my life, I will do it (not waste my life anymore)", dan benar melakukannya??
Jesus Loves u n me..
Tuhan berkati..
Rabu, 02 November 2011
Hargailah..

Sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini. Kali ini ada hal baru yang ingin saya bagikan. saya teringat tentang makan makanan yang ditawarkan orang. Yesus pernah berkata, "Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu (Lukas 10:8). Apa sih maksud-Nya? Saya tahu mengenai prinsip menolak makanan yang ditawarkan itu akan menyakiti hati si penawar, akan tetapi sejak saya membaca tulisan artikel Ibu DR. Maqdalene Kawotjo dan mengikuti pemuridan di KTC (Kingdom Training Center) yang adalah badan pelayanan beliau, saya mendapatkan ayat tersebut yang dikatakan sendiri oleh Tuhan Yesus, dan mengerti apa maksud-Nya.
Mungkin saudara bertanya-tanya apa maksud-Nya, ini mengenai penginjilan. Hal kecil mengenai makan saja bisa menjadi batu sandungan karena kita hingga akhirnya Injil ditolak. Posisikan diri saudara sedang menjamu makan seorang tamu dengan makanan favorit atau menu andalan keluarga saudara, yaitu Ikan tim obat yang harganya bisa mahal di luar sana, tapi tamu saudara menolak makan ikan tersebut. Apa yang saudara rasakan?! Saudara mungkin jadi tidak enak hati dan mencoba mencari makanan lain, dan ini akan merepotkan saudara. Ternyata sebagai seorang anak Tuhan yang mempunyai kewajiban memberitakan Injil, hal makan dapat menjadi batu sandungan atau berkat. Bagaimana ketika kita mau mendekati seseorang untuk memberitakan Injil kepada, ketika orang tersebut mengajak kita ke rumahnya untuk dijamu makan malam, tap banyak menu yang tak bisa kita makan atau kita tidak suka, sehingga kita tidak makan dengan senang dan lahap, Injil bisa saja ditolak karena hal ini, karena perasaan tuan rumah yang sedikit kecewa dan jadi repot karena mencoba mengganti makanannya, padahal kita yang bertamu malah buat ia menjadi repot. Para misionaris pun harus mengalami hal ini ketika ia menginjili daerah-daerah pedalaman, ada yang harus makan babi panggang (ini mungkin masih bisa), makan ulat, makan serangga, makan daging busuk, makan belatung, makan jeroan binatang, bahkan ada yang bayi manusia yang adalah menu-menu kesukaan orang-orang tersebut. Hal tersebut dilakukan supaya ia bisa masuk ke dalam suku tersebut dan Injil tidak ditolak hanya karena menolak makanan.
Jangan ngomong soal serem dan menggelikannya makanan yang harus dimakan misionaris, karena bagi kita untuk berhadapan dengan hal-hal tersebut sangat kecil kemungkinan. Ada yang tidak bisa atau tidak suka makan durian, jengkol, sayuran biasa, sayuran pahit, daging sapi, daging babi, ikan, ceker ayam, susu, pepaya, mentimun, masakan-masakan tertentu, dll. Iblis bisa memakai kelemahan-kelemahan kita tersebut supaya kita menjadi batu sandungan dan Injil sulit disampaikan hanya karena makanan. Karena ketika kita sedang makan dengan seseorang itu berarti kita sedang membangun relasi yang lebih dengan orang tersebut, seperti halnya kencan makan malam, makan siang bertemu dengan relasi bisnis, perjamuan pesta, dll, apalagi bagi orang timur. kita harus bisa mengalahkan diri kita sendiri supaya nama-Nya dipermuliakan bahkan untuk urusan sepele mengenai makanan.
Puji Tuhan sampai saat ini saya belum menemukan apa yang benar-benar saya tidak sukai, jadi ketika datang ke rumah orang, apapun yang ditawarkan saya akan memakannya dengan lahap, dan Tuhan sendiri yang akan menjaga kita kalaupun makanan itu misalnya tidak baik untuk kesehatan kita atau mungkin berbahaya, karena ini agar Injil-Nya diberitakan dan nama-Nya dipermuliakan dan kita pun diberkati. Hari ini saya harus datang ke rumah orang dengan seorang teman untuk urusan bisnis, rumahnya kecil terkesan berantakan dan dia pelihara anjing rumahan. Teman saya itu bertingkah geli karena anjing itu, sampai dia jadi sulit berbicara untuk presentasi, jadi saya yang menengahi anjing itu dan tuan rumah juga tidak enak hati dan marah-marah dengan anjingnya yang tidak tahu apa-apa. Puji Tuhan saya bisa menangani situasi itu karena saya bisa menerima kondisi rumah orang tersebut, dan tetap nyaman. Hal ini sama dengan cerita tentang makanan dari tuan rumah di atas tadi sehingga orang yang diceritakan bisnis bahkan Injil merasa nyaman untuk mendengarkannya.
Biarlah apa yang ditulis ini seperti pedang bermata dua yang tajam yang memberkati kita.
Tuhan beserta kita..
God Bless..
Rabu, 30 Maret 2011
Pegang Sumpit

Pasti ada yang bingung neh kenapa Judulnya pake kata "sumpit" segala, terus di atas juga ada gambar tahap-tahap cara belajar make sumpit yang benar. Apa maksudnya nehh..?? Hehe, mungkin ada yang tanya gitu. Okey, petama-tama, saya pengen tau ada ga yang tau n bisa megang sumpit yang benar?! Ayo coba angkat perutnya (kalo angkat tangan mah udah klise mending angkat perut, jadi kan ga kuno, sapa tau ada yang perutnya mancung,qiqiqi), hehehe…! Akh ga ada yang angkat, berarti pada ga tau neh..
Ehhmm, megang sumpit itu emang semua orang bisa, yah megang doang mah yah gampanglah. Tapi megang sumpit yang benar supaya dapat menyumpit dengan kuat dan rapi itu ga mudah. Liat kan gambar di atas? Kayaknya ribet kan?? Tapi itulah megang sumpit yang benar. Dulu waktu saya masih SMP kelas II (kalo sekarang bilangnya kelas VIII, wew jadi itung-itungin deh), saya pernah tinggal di rumah sodara saya selama setahun, dan di rumah sodara itu kadang-kadang kalo makan harus ada yang pake sumpit. Nah saya pernah diajarin pegang sumpit yang benar itu seperti gambar di atas, dan Papi saya juga pernah ajarin n membenarkan kalo itulah cara pegang sumpit yang benar. Saya diledek-ledekin ga bisa pegang sumpit yang benar karna sebagai keturunan Chinese (ada separohlah, separoh lagi Manado), harus bisa pegang sumpit yang benar, jangan sembarangan, maluw-maluwin ajah. Tau ga rasanya mesti pegang sumpit dengan cara yang benar itu gimana?!! Uuwwiiiichh, atit bo… Tangan pegel rasanya, bahkan sempet gemeteran waktu lagi belajar karna harus maksain megang seperti, padahal biasa megangnya lembek gitu yang semau gue tapi sedikit yang kesumpit. Tapi saya ga nyerah, saya paksain nih tangan kanan (yah tangan kanan lah, kan eike bukan kidal, fyi, hehe) megang sumpit dengan cara yang benar. Mungkin kira-kira 1 minggu smp 2 minggu gitu baru mantaph. Wah jangan-jangan ada yang bilang, “masa sesusah itu n selama itu seh.!?” Yah kan waktu itu saya masih dibilang anak kecil (pra remajalah, masih imut-imutnya) yang sudah terbiasa pegang sumpit ga jelas. Eits, tapi harga yang sudah dibayar sampe tangan gemetaran, jari ngilu-ngilu n pegal-pegal tidaklah sia-sia, becoz sejak saat itu saya mantaph memegang sumpit dan dapat menyumpit dengan kuat, ga pletat-pletot lagi, huehehehe.
Nah waktu SMA atau kuliah gitu (saya lupa persisnya), saya prihatin dengan teman saya (turunan Chinese juga, tulen malah), tapi megang sumpitnya pletat-pletot kayak saya dulu. Jadi saya ajarin dia, wah ternyata nyeri-nyeri juga dia harus belajar cara megang sumpit yang benar, apa lagi jari-jarinya emang rada kaku (tuh dia udah besar loh, bisa ajah susah!). Tapi saya salut dia mau belajar terus, mungkin karna terinspirasi oleh saya yang emang kalo megang sumpit mantap waktu makan bakmi, kwetiauw, bihun, cicongpan, pangsit, bakso, nasi goreng, es campur (eh ketiga terakhir makanan itu mah ga pake sumpit yah..?? xixixi, lebay..). Weits, tapi long time no see sama tuh teman (sohib), diasudah bisa megang sumpit dengan mantaph, tapi dia cerita emang pertama-tama nyeri-nyeri n pegel-pegel, tapi dia ga nyerah. Excelent! Keren dah! Saya pikir dia bakal nyerah. Sekarang kalo makan bakmi sama saya dia ga minder lagi sama saya (hehehe, kege-eran). Lain halnya dengan sahabat saya lainnya, saya sempet ajari dia pegang sumpit yang benar, dia sempat coba tapi karna susah n sakit waktu mencoba, dia kembali lagi megang sumpit pletat-pletot yang sudah bertahun-tahun dia jalani, saya suruh lagi coba, dia langsung nyerah lagi dan kembali lagi ke cara lama.
Apa sech pesan yang mau saya angkat?! Mungkin Anda sudah tau sedikit atau banyak maksud cerita sumpit di atas. Yah ini mengenai Zona Nyaman dan Zona Tantangan! Ada harga yang harus dibayar untuk menjadi kuat. Untuk punya jari-jari yang kuat dalam menyumpit, kita harus rela memaksakan diri memakai sumpit dengan cara yang benar, dan mencoba untuk ga pakai cara lama lagi yang pletat-pletot itu. Tapi kalo kita masih mau pake cara lama, yah tetep ga kuat megangnya, dan alakadarnya yang dapat disumpit. Betul ga!? Dulu sewaktu kecil saya adalah anak periang yang cengeng dan sedikit manja, bandel tapi cengeng, ga mau susah juga. Tapi seatu saat keluarga saya tertimpa musibah dan saya mau ga mau keluar dari zona nyaman sewaktu kecil, dan harus melewati masa-masa sulit sebagai anak kecil sampai remaja. Hal itu mengharuskan saya merubah sikap saya yang cengeng untuk menjadi lebih kuat, dan bahkan saat ini saya harus tinggal sendiri. Bayangkan kalao saya ga pernah keluar dari zona nyaman kemanjaan dan kecengengan itu, mungkin saya ga akan nulis ini. Sekarang saya yakin Tuhan punya rencana yang Luar Biasa untuk masa depan saya dengan Ia mengizinkan hal-hal yang ga enak itu saya alami, sekarang saya lebih kuat dari sebelumnya.
Alkisah ada seorang gembala muda, dia adalah anak bungsu dari delapan bersaudara. Di negerinya anak bungsu tidak terlalu dianggap. Dia sudah biasa harus mati-matian melindungi domba-dombanya dari binatang pemangsa seperti serigala, singa, bahkan beruang, dia biasa melawan binatang-binatang itu dengan senjatanya sendiri yang mirip dengan ketapel, yang pelurunya adalah batu. Lalu seatu hari rumahnya didatangi seseorang yang diutus Tuhan, diapun dibilang (dinubuatkan), bahkan diurapi jadi raja di negerinya seatu saat. Dia memulai karirnya di pemerintahan sebagai pembawa makanan bagi kakak-kakaknya yang menjadi prajurit. Sesampai di medan perang untuk membawa makanan, ia penasaran dengan apa yang terjadi dan dia sempat sedih karena bangsa lain menghina tentara-tentara negaranya. Lalu ia menghadap raja dan menyatakan akan ikut bergabung untuk mengalahkan jagoan bangsa lain itu yang menghina negerinya. Lawannya itu besar sekali badannya dan terkenal sebagai pendekar di medan perang karna perawakannya, tapi gembala ini tidak takut karna dia merasa Tuhan selalu menyertainya sesuai dengan pengalamannya melawan singan dan beruang sewaktu menggembalakan. Yah, dia pun mengalahkan raksasa yang bermulut besar itu dengan ketapelnya yang batunya diarakan ke dahinya si raksasa dan batu itu terbenam di dahinya, terus mati deh tuh raksasa. Anak ini dipuja-puji oleh rakyatnya dan menjadi prajurit, terus memenangkan peperangan. Bahkan ia lebih diagung-agungkan daripada rajanya, sampai akhirnya rajanya pun iri hati sampai ingin membunuhnya, tapi dia tidak merasa bersalah. Dia berlari-lari terus sebagai buronan pemerintahan padahal dia tidak tau persis apa salahnya di hadapan rajanya. Dalam pelariannya pun dia pernah dikhianati, harus memimpin orang-orang yang mengikutinya yang juga orang-orang yang “pesakitan” yang penuh kekecewaan dalam hidupnya. Tapi orang muda ini tetap teguh dalam Tuhannya. Singkat cerita raja yang ingin membunuhnya mati terbunuh di medan perang, dan ia pun jadi raja di negerinya itu, dan ia menjadi raja yang paling diagungkan dan diingat-ingat sampai sekarang di negerinya, bahkan namanya identik dengan bangsanya sampai sekarang, yaitu bangsa Israel.
Yah pasti kita sudah tau sapa tuh orang muda, dia adalah Daud. Raja Daud! Bayangin kalau Daud ga pernah jadi gembala yang harus lawan singa n beruang di padang rumput waktu gembalain domba-dombanya, apa iya dia berani lawan si Goliath (tentunya dengan mengingat pengalaman gembalanya itu, Daud ditolong Tuhan, bukan dengan kekuatannya sendiri)?! Kalau Tuhan ga izinkan Daud dikejar-kejar jadi buronan fitnahan, menderita di pelarian, apa iya dia bisa jadi raja yang begitu dibangga-banggakan bangsa Israel?! Bahkan Tuhan rancangkan Mesias lahir dari keturunan Daud.
Kita semua harus melewati yang namanya masa sulit dan kita tetap harus berpengharapan dan tetap tegap karna kita pasti akan jadi lebih kuat. Jangan bersedih bila kita harus melewati masa sulit. Memang benar kalau manusia itu seperti teh celup yang harus kena air panas baru deh sari tehnya keluar, ngerti kan??!
So, keluarlah dari kolam yang nyaman dan tidak ada arusnya itu, kita harus ketemu ombak agar terus “hidup”. Tau kan hanya ikan hidup yang berenang melawan arus..?? kalo kita tetep pake sumpit yang meletat-meletot gitu, yah ga ada kemaksimalan dalam menyumpit..
Harusnya ngerti yah…!
Semoga bisa jadi pedang bermata dua yang “menggores”, “mengorek”, dan “mengiris” hati pembaca dan penulisnya..
AMIN. God Bless U!


.jpg)
